Maaf ya bu,
ternyata hasilnya kurang baik, maksudnya terlalu samar dan buram, tidak kontras.
saya coba untukmencari yang lainnya, dengan background bunga.
wassalam,
azifrayani
setelah dicoba
Ketika Izroil Menjemput!
Teman....
Ada apa dengan kematian atau 'tamat riwayat hidup'?
Mengapa begitu menyeramkan dikala mendengarnya (bagiku, pada awalnya dulu...hehehe) -sambil membayangkan malaikat Izroil sedang melaksanakan tugasnya-
Kabar tentang kematian mendadak pada beberapa orang beberapa kali kudengar. Mungkin tidak pula bisa dikatakan mendadak sama sekali, mungkin juga sudah ada tanda-tanda sebelumnya namun tidak disadari oleh diri orang tersebut ataupun orang-orang di sekitarnya. Baru-baru ini yang sering diberitakan adalah kematian Bu Ida Kusumah, salah seorang pemain film senior Indonesia. Beliau diberitakan meninggal disaat/setelah syuting film.
Kondisi/posisi terakhir orang-orang yang meninggal itu ternyata cukup beragam. Ada yang sedang tidur, duduk di kursi, saat sedang memberikan pengajaran, dan adapula yang sedang sujud dalam sholatnya. "Wah! sungguh beruntung orang-orang yang sedang beribadah atau sedang melakukan perbuatan baik ketika nyawanya dicabut oleh malaikat Izroil/husnul khotimah." Bagaimana dengan orang-orang yang mendadak meninggal disaat sedang melakukan perbuatan maksiat/su'ul khotimah? "Wah! sebuah akhir hidup yang sangat memilukan dan menghinakan."
Penyakit!... ya, keberadaan penyakit seringkali menjadi awal atau pendahulu kematian bagi banyak orang.
Biasanya bila ada orang yang meninggal, maka komentar kita adalah, "Apa penyebab kematiannya? Apakah karena sakit? Sakit apa?"
"Tuh kan!... yang ditanya adalah penyebab kematiannya" -istilah 'penyebab' di sini rasanya kurang cocok sih bagiku-.
"Hmmm!" Bagi aku yang sedang menderita sakit seperti ini, tentu saja pernah bahkan sering terpikir tentang kematian. Menurut artikel kesehatan di internet, perkiraan usia penderita kanker biasanya 5 tahun dari setelah ia dikatakan sebagai penderita -mungkin perkiraan usia ini apabila penderita tersebut tidak berobat serius- Namun demikian, tetap banyak pula pasien yang berhasil sembuh dan dapat menikmati hidup lebih lama dari 5 tahun....:)
Seiring waktu berjalan, pikiran tentang datangnya kematian yang akan menjemputku semakin berkurang. Lama-kelamaan aku mulai berusaha untuk tawakal dan mengikhlaskan kapanpun itu terjadi pada diriku.
Aku berharap banyak pasien penyakit kanker maupun penyakit berbahaya lainnya dapat diselamatkan hingga perkiraan usia hidupnya menjadi bertambah. Oh ya, baru-baru ini ada seseorang yang kukenal telah menghembuskan nafas terakhirnya. Ia menderita penyakit yang sama denganku. Sewaktu awal memeriksakan diri ke dokter, kondisinya sudah pada stadium 4 atau stadium akhir, hingga dokter tak bisa berbuat maksimal untuk menolongnya. Dokter mengatakan bahwa tindakan operasi pengangkatan penyakit tersebut sudah percuma dilakukan karena sudah sangat terlambat, jadi kalau tidak salah ia hanya menjalani kemoterapi. Tidak berapa lama -sepertinya beberapa bulan- akhirnya ajalnya sampai juga. Ia sempat berkata pada keluarganya, ia berharap agar tidak ada lagi di antara mereka yang terkena penyakit tersebut selain dirinya. Menurutnya, rasa sakit yang dirasanya itu sangat menyakitkan. "Sakiiiiiiiiiit!" katanya lagi.
Memang benar, bila ia bisa menjadi begitu kesakitan. Aku pernah merasakan hal itu walaupun mungkin kadarnya tidak sama. Pada suatu hari, aku merasakan perih dan sakit yang menusuk di bagian perut dan pinggangku. Aku seringkali merintih menahan rasa sakit tersebut. Kulakukan sholat dengan posisi duduk karena tak mampu berdiri dan melakukan gerakan-gerakan lainnya. Berjalanpun kulakukan dengan tertatih-tatih, dan rasa sakitnya semakin menjadi-jadi. Tanganku selalu memegang bagian kanan perutku seperti ingin mengurangi rasa sakit tersebut hingga akhirnya aku sudah tak mampu lagi berjalan. Beruntunglah aku memiliki suami yang sangat pengertian dan mau menjaga dan merawatku di segala kondisi. Ialah yang memapahku kala ingin pindah dari suatu ruangan ke ruangan lainnya di rumahku. Hari itu aku sempat berpikir bahwa aku sudah tidak akan mampu lagi untuk berjalan tanpa bantuan, berarti tempat tidur akan menjadi tempat setiaku selanjutnya.
Alhamdulillah, berkah anugrah besar dari Allah, apa yang sempat kupikirkan sebelumnya tidaklah terjadi. Malam harinya, masih pada hari yang sama Ia menghilangkan rasa sakit yang sangat menusuk itu hingga aku langsung dapat kembali berjalan tanpa bantuan. "Sungguh ajaib!" Tapi itu semua bukan didapat begitu saja, hal itu terjadi setelah aku melakukan pengobatan di malam itu juga. Allah sungguh melihat usaha manusia, Ia yang menentukan hasilnya. "Allahu Akbar!"
"Ya Allah, ampunilah segala kesalahan/dosa-dosaku selama ini. Mohon jadikanlah sisa usiaku ini sebagai usia yang "bernilai", bermanfaat bagiku, bagi keluarga dan orang banyak. Aku mohon ya, Allah"
"Kullu nafsin dzaikatul maut, setiap yang bernyawa pasti akan mati"
Sedikit dulu ya tulisannya...
Salam....
Pantun Yuk!
Apa kabar, teman?
Semoga semua baik-baik saja ya.
Teman, setiap hari Jumat aku bertugas untuk mengisi "UJAR LACAK" -salah satu kegiatan dari Grup Lazuardi Caraka atau disingkat dengan LACAK- Ujar Lacak berisi tentang informasi kebahasaan yang dipublikasi lewat jaringan online (lantalk) komputer-komputer di sekolah tempatku mengajar (Lazuardi -di setiap kelas terdapat komputer-). Berbagai informasi kebahasaan itu bisa dibaca setiap harinya. Kebetulan aku bertugas/dipercaya untuk mengisinya dengan PANTUN. Jadi setiap hari Jumat, aku akan mengajak teman-teman untuk berpantun dengan menuliskan beberapa contoh pantun.
Ini contoh pantun yang sudah kubuat hari ini:
Baju indah dari negeri Cina
Warnanya merah boleh dicoba
Jangan kau gundah juga gulana
Kabar gembira segera tiba
Minum sirup di rumah Dita
Minum bajigur di rumah Sonya
Nikmati hidup penuh suka cita
Banyak bersyukur atas karunia-Nya
Semoga terhibur.... Bye
Benih Sukses dari Tuhan
Aku kutipkan sebuah tulisan dari kumpulan cerita penyemangat jiwa dari Nursyifa' yaaaa...
Jangan pernah merasa malu dengan segala keterbatasan. Jangan merasa sedih dengan ketidak sempurnaan. Karena Allah menciptakan kita penuh dengan keistimewaan. Dan karena Allah memang menyiapkan kita menjadi makhluk dengan berbagai kelebihan.
Mungkin suatu ketika, kita pernah merasa kecil, tak mampu, tak berdaya dengan segala persoalan hidup. Kita mungkin sering bertanya-tanya kapan kita menjadi besar dan mampu menggapai semua impian, harapan dan keinginan yang ada dalam dada. Kita juga bisa jadi sering membayangkan bilakah saatnya berhasil? Kapankah saat itu akan datang?
Teman, kita adalah layaknya benih kecil. Benih yang menyimpan semua kekuatan dari batang yang kokoh serta daun-daun yang lebar. Dalam benih itu pula akar-akar yang keras dan menghujam itu berasal. Namun, akankah Allah membiarkan benih itu tumbuh besar tanpa pernah merasakan alpa dengan banyaknya tiupan angin, derasnya air hujan, dan teriknya sinar matahari?
Begitupun kita, akankah Allah membiarkan kita besar, berhasil dan sukses tanpa pernah merasakan ujian dan cobaan? Akankah Allah lupa mengingatkan kita dengan hembusan angin "masalah", derasnya air "ujian" serta teriknya matahari "persoalan?" Tidak teman, karena Allah Maha Tahu bahwa setiap hamba-Nya akan menemukan jalan keberhasilan, maka Allah tak pernah lupa dengan itu semua. Jangan pernah berkecil hati, semua keberhasilan dan kesuksesan itu telah ada dalam dirimu.
Alhamdulillahirobbil alamin....
Perihnya Jadi PRT TKW
Miris, perih... bila mendengar berbagai berita tentang banyaknya tindak kriminalitas di negeri ini. Dari yg kecil-kecil hingga yang besar-besar bahkan sangat besar... "Mmm, capek!". Pencopetan, perampokan, penculikan, perkosaan, pembunuhan, bahkan pembunuhan dengan cara yang sangat biadab, sangat tidak berprikemanusiaan dengan memotong bagian-bagian tubuh orang/sesama orang dengan seenaknya -mutilasi- bahkan gilanya lagi, ada yang sampai hati memakannya dengan nyaman (ingat kisah Sumanto?).... "Uuuhhhh, geregetan! Memangnya hewan sembelihan!"
Sekarang ini berita kriminalitas sedang banyak memunculkan para korban kekerasan tenaga kerja di luar negeri. Sungguh memilukan, para TKW (Tenaga Kerja Wanita) yang bekerja sebagai PRT (Pembantu Rumah Tangga) itu misalnya Kikim dan Sumiyati, bernasib buruk karena memiliki majikan-majikan yang tidak memakai hati dalam bertindak. Semua diakhiri dengan penyiksaan dan kekerasan fisik. "Aduh, mak!" Aku nggak kuat melihat kondisi mereka sewaktu menonton di televisi, jadilah aku menonton berita sambil memejamkan mata.
Peristiwa duka itu mengingatkan aku pada kisah dua orang TKW yang pernah kutemui sewaktu pergi umroh dulu. TKW pertama merasa kapok bekerja di negara itu hingga ia tidak berniat lagi untuk kembali bekerja di sana. Menurutnya, ia berada pada majikan yang kasar dan pemarah. Ia seringkali dibentak-bentak dan dihina, selain itu untuk menyuruh melakukan sesuatupun, sang majikan selalu memanggilnya dengan berteriak-teriak dan penuh dengan ketidak sopanan. Berbeda dengan TKW kesatu, TKW kedua yang kutemui ini bernasib lebih baik. Ia adalah contoh TKW yang "berhasil", ia sudah bertahun-tahun bekerja di negara tersebut dan merasa betah karena majikannya sangat baik. Ia pun tidak bermasalah dengan harga dirinya sejak tahun pertamanya di sana, saat itu adalah tahun ke-enamnya.
Kekerasan pada PRT sebenarnya tidak hanya terjadi di luar negeri, di negara manapun (termasuk negara-negara yang notabene mayoritas penduduknya adalah muslim) namun itu juga terjadi di negaraku, Indonesia. Pastinya, banyak hal yang harus dibenahi demi mengurangi atau melenyapkan tindak kekerasan tersebut. Perhatian lebih dari pemerintah, penegakan hukum yang lebih baik, pengawasan pada Pengerah Jasa TKI yang lebih ketat, dan sebagainya.
Oh ya, aku pernah pergi ke sebuah PJTKI di sebuah tempat di Jakarta. Sebuah bangunan cukup luas dengan dikelilingi tembok-tembok besar dan tinggi. Pagar kokoh yang rapat, tanpa celah untuk melihat kondisi ke luar maupun kondisi ke dalam sungguh cukup menakutkan. "Iiiihhh, seperti di penjara!" Berbagai persiapan dan pelatihan dilakukan di dalam bangunan besar itu. Para TKW dilatih melakukan pekerjaan PRT dan pelatihan bahasa asing. "Nah!" kendala bahasa, mungkin saja bisa menjadi pemicu kekerasan yang terjadi di negara tujuan. Rasanya perlu peningkatan yang lebih dalam hal ini, dalam rangka menghindari kesalah fahaman antara pekerja dan majikan nantinya.
Kalau dipikir-pikir, rasanya semua bermuara pada hati. Apabila hatinya bersih, pastinya semua tindakan akan menjadi baik. "Coba deh, perhatikan kalimat-kalimat ini! (sedikit mengutip dari Mas Reno)"
-bermakna positif-
"Hati-hati di jalan ya, Nak!'' pesan seorang ibu pada anaknya yg akan pergi ke luar rumah.
"Orang itu mendengarkan penjelasan dengan penuh perhatian," puji seorang Bapak.
"Ia selalu mendengarkan suara hatinya dalam mengambil setiap tindakan."
"Mata hatinya sudah semakin tajam hingga ia mampu merasakan hal-hal yang 'di luar jangkauan'.
-bermakna negatif-
"Anak itu kurang perhatian, lihat saja tingkah lakunya!'' gerutu seseorang pada anak yang "nakal.''
"Dasar nggak punya hati!'' omel seorang Ibu pada tetangganya yang sudah membuatnya kesal.
''Jangan dengar omongan dia, bisa makan hati!" ucap kesal perempuan itu.
Jadi, benarlah kalau TUHAN MELIHAT PADA HATI SESEORANG, bersih hatinya maka akan baik pula tindakan/sikapnya.
Wallahu alam bishshowab.
Salam dari hati.





